Aku sadar aku tak cukup baik untuk menjauh dari yang kuanggap memberikanku beberapa hal negatif. Aku teringat tahun 2015 - 2020. aku tak tau saat itu normal atau tidak, mungkin tidak sepenuhnya normal tapi kekhawatiran itu belum hadir dalam hidupku. Aku masih ingat setiap aku pulang kerja aku singgah ke ke kantor kakakku menunggunya pulang kerja. aku pernah meminjam uangnya saat skripsiku telah usai. belum ada pria yang hadir saat itu, semua berjalan normal tanpa ada rasa sakit hati dan rindu yang membara.
Aku masih ingat tahun 2018 atau 2019 awal, kakakku begitu mencintai seseorang yang membuatnya rela pergi kekampung untuk sekedar refreshing. setelah itu pekerjaanya semakin berat yang membuatnya berpikir untuk berhenti dan mencari pekerjaan baru. dia melihatku begitu santai bekerja disekolahan dan membuatnya berpikir untuk melamar kerja disekolahan juga. Aku masih ingat dia menceritakan bahwa ia interview disebuah sekolah dan hingga saat ini ia bekerja disana.
Tahun 2019 aku ketahuan menggunakan aplikasi untuk berbicara dengan orang lain. sebelumnya aku menyembunyikannya pada keluargaku, namun akhirnya kakakku tau bahwa aku berbicara dengan orang lain melalui aplikasi. saat itu aku hanya sekedar iseng dan masa bahagianya. Akhirnya diapun mencobanya dan ia bertemu dengan pria yang sampai saat ini dia cintai. Aku sudah berulang kali menasehatinya untuk melupakan pria itu dan ia mengiyakannya, tapi disaat rindu itu melanda selalu terbesit olehnya untuk menghubunginya lagi. dan itulah yang membuatnya lepas dari pria itu.
Aku paham begitu berat melupakan seseorang yang kita cintai, menghilangkan rindu pada seseorang. Aku pernah menangis dengan dada sesak hanya untuk menerima kenyataan bahwa dia yang aku cintai dan kuanggap akan bersamaku kelak, bukanlah aku yang dia inginkan. Tahun 2022 lalu terakhir aku menghubunginya, sebelum itu hidupku tidaklah tenang karena harapan - harapan tentangnya. aku masih merindukannya dan berpikir mungkin dia juga memikirkanku.
Hingga akhirnya dia memblokirku hingga aku tak bisa berkomunikasi lagi dengannya. saat itulah aku harus menelan kepahitan rindu, kesesakan dada untuk ikhlas dan menerima bahwa dia sudah benar - benar pergi dari hidupku. Aku tanamkan dalam diriku bahwa aku tak boleh lagi hadir dalam hidupnya.
Alhamdulillah setahun lebih berlalu, perasaaan itu sudah benar - benar hilang. aku tak lagi mengharapkannya, tak ada pikiran untuk mengenang dan menangisinya lagi. mungkin hanya sesekali tiba - tiba dia hadir dalam pikiranku dan saat aku kembali mengingatnya, aku sadar kebodohan dan kesalahanku. Apakah aku menyesal mengenalnya? tidak, aku tidak menyesal. beberapa kesakitan dan kekecewaan yang kuterima mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan sabar untuk menerima kenyataan. sebelumnya aku selalu bertanya pada Allah, apakah aku bisa melupakannya? jawabannya tidak, aku tidak bisa melupakannya, tapi aku bisa mengikhlaskannya. ikhlas membuatku tenang tentang apapun. untuk mendapatkan pembelajaran tentang ikhlas butuh kekecewaan berulang - ulang untuk akhirnya sadar tentang arti keikhlasan.
kini mungkin waktunya kakakku untuk mengerti arti ikhlas seperti yang telah kurasakan tentang cinta. ikhlas itu akan sulit jika harapan itu masih ada, maka langkah awal untuk mendapatkan keikhlasan adalah menghilangkan harapan itu. kemudian sadar dan berbicara pada diri sendiri bahwa inilah kenyataan sesungguhnya yang harus dihadapi bukan hidup dalam harapan dan hayalan manis.
Harapan itu indah, tapi kebahagiaan yang hanya bergantung pada harapan, hanyalah kebahagiaan semu dan akan mudah berubah ketika harapan itu mulai sirna. bagaimana jika harapan itu tak akan terjadi? apakah artinya kebahagiaan itu akan hilang? bagaimana jika kita lupakan harapan itu dan mengganti harapan itu dengan hal yang lebih mungkin atau mungkin tidak ingin berharap lagi.
Mungkin ada satu hal yang membuat harapan itu penting, yaitu gairah, atau kata lain semangat, optimisme, hasrat. dan ketika harapan itu hilang, hasrat atau gairah itu tidak sebesar dulu. bagaimana jika semua hal terasa biasa saja, tak ingin berharap dan membuatnya diri ini hanya hidup untuk melanjutkan hidup? tidak senang, tidak sedih. semuanya sewajarnya saja.
Mungkin kini aku lebih ikhlas dari sebelumnya tapi apakah aku memiliki semangat yang membara seperti dulu, mungkin tidak. saat ini aku dalam fase semua terasa biasa - biasa saja. aku ingin fokus terhadap diriku sendiri, lebih konsisten dan lebih berkomitmen tentang hal - hal yang ingin ku ubah dalam hidupku.
untuk kakakku, aku adalah orang yang tak pandai mengekspresikan perasaanku, berkata - kata apalagi kita beberapa kali berhadapan dengan masalah. dekat kemudian jauh, kemudian agak dekat kembali dan jauh lagi, dan memang dulu kita tak pernah benar - benar dekat, selalu ada jarak antara kita. mungkin kamu sering curhat padaku tentangmu atau ada beberapa hal yang masih kau sembunyikan, tapi aku masih menutup rapat tentang diriku dan hanya sedikit yang kuberitahukan.
untuk kakakku, mungkin kita tak pernah benar - benar dekat, tapi percayalah aku sering memperhatikanmu. aku tau kau begitu senang ketika dicintai, akupun begitu, tapi menaruh rasa sepenuhnya apalagi terlalu berharap pada seseorang bukankah tidak begitu baik? Aku ingin kamu kembali seperti dulu yang tidak jatuh karena cinta apalagi sakit - sakitan karena cinta, apalagi untuk seseorang yang tidak pantas untuk dicintai. aku tau, tidaklah mudah tapi tiada cara selain menelan kepahitan kenyataan untuk menjauh dari hidupnya dan menghilangkan harapan tentangnya.
Aku selalu berdoa agar kau mendapatkan yang terbaik dan kebahagiaan. karenanya aku tak ingin kau terlarut - larut dengan kesedihan karena harapan padanya. lebih baik menunggu orang yang tepat daripada memulai dengan orang yang salah bukan? tidak ada kata terlambat tentang pernikahan, bahkan ada beberapa hal yang bisa kita lakuin jika kita belum dipertemukan dengan jodoh kita.
Harapan itu masih ada, namun jangan sandarkan kebahagiaan kita pada harapan itu, karena harapan itu sama seperti hayalan. cukup lakukan yang terbaik hari ini dan lupakan hal - hal yang membuatmu sedih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar