Total Tayangan Halaman

Kamis, 30 Oktober 2025

Menikah

 beberapa orang bertanya tentang pernikahan padaku. beberapa orang menyemangatiku, beberapa hanya sekedar bertanya dan beberapa lagi memandang lain. aku tau, aku tak perlu menganggapnya berlebihan. itu adalah hal yang lumrah ditanyakan dan aku paham kondisi sosial seperti ini. aku hanya berusaha menyadarkan diriku terus bahwa aku hanya perlu mengimbanginya. setiap pertanyaan akan selalu ada, selama kita hidup didunia ini. aku merasa untuk saat ini, aku hanya perlu terus menyadarkan diriku untuk sadar tentang apa yang harus ku ucapkan, apa yang harus kulakukan, dan memperbaiki mungkin kesalahan - kesalahan yang telah terjadi karena  ketidak sadaranku.

banyak orang mungkin belum paham tentang yang kualami dan kurasakan. setiap aku mencoba mengingat perkataan dan perbuatan yang telah kulakukan, aku menemukan kesalahan yang mungkin itu membuat orang lain tidak nyaman dan tidak suka. tidak sepenuhnya salahnya, tapi aku menyesali respon yang kulakukan. aku tidak bisa menyalahkan dan menjudge orang lain tentang perbuatannya padaku, karena mungkin ada sisi lain dari diriku yang mungkin tak kusadari membuat mereka bersikap demikian. aku pahami itu. aku memaafkan kesalahan orang lain seperti aku paham kesalahan yang ada dalam diriku. 

jujur saja setelah kejadian dipuskesmas itu, itu sebagai peringatan padaku, bahwa aku harus berhati hati dalam berucap, bersikap dan berpikir. aku harus bisa memilah mana emosi yang wajar dan tak wajar. ketika pikiran negatif itu datang padaku, aku kembali mengingatkan diriku bahwa wajarkah marahku ini? apakah kamu tidak mencoba mengingat kebaikan orang lain? 

yupss. pertanyaan itu yang selalu ku tanamkan dalam pikiranku. saat ini aku hanya berusaha untuk fokus mengendalikan diriku sendiri. mengendalikan pikiran negatifku. mengendalikan mimik wajahku. mengendalikan emosiku. memperbaiki ucapan - ucapanku, kinerjaku dan cara berpikirku.

kembali lagi tentang pernikahan. aku tak ingin berkata bahwa aku tak ingin menikah atau aku tak percaya pada pernikahan. aku tak tau apakah ini kepasrahan. sebenarnya jauh dalam hatiku. aku sedih karena aku perlahan kehilangan diriku yang dulu. anda yang tidak pernah kehilangan rakaat sholatnya dan selalu semangat. semangat itu masih ada, hanya saja beberapa menyadarkanku untuk lebih banyak menerima kenyataan hingga perlahan semangat itu berkurang. 

jika orang bertanya padaku, kapan aku akan menikah? kenapa belum menikah? aku telah paham bahwa pernikahan akan datang pada waktunya. aku tidak trauma dengan diriku, atau trauma apapun, aku hanya sadar pentingnya menikah setelah sadar tentang tujuan pernikahan. apakah aku harus mencari perhatian hanya agar menikah? pernikahan seperti apa yang kuinginkan jika pria - pria yang kutemukan tidak menjawab atau tidak sejalan tentang tujuan pernikahan itu sendiri? haruskah memaksakan yang penting menikah? 

untuk menjelaskan hal sepanjang itu kepada orang yang bertanya tentang pernikahan tentu melelahkan. jujur saja aku tidak begitu memikirkan pendapat orang tentang diriku dikarenakan pernikahan. karna aku tau mereka hanya belum paham tentang isi dikepalaku.

aku ingin menikah. ya tentu saja aku masih ingin menikah. tapi membebani diriku tentang keharusan menikah tentu saja tidak. aku tau kehidupan sosial seperti apa. menghakimi pandangan lingkungan sosial tidak akan menenangkan tentang bebanku belum menikah. yang dapat menenangkanku adalah jodoh itu sudah ditentukan. aku tak menutup diri, beberapa kali aku berusaha. tapi ketika jawabannya selalu belum, maka mungkin itu jawabannya, "Belum". aku tak bisa memaksakan pria untuk menyukaiku dan berupaya, karena ketika kita memaksakan bukan cinta yang didapatkan tapi kebohongan.

jujur saja. aku sudah beberapa kali melewati perbedaan pendapat, perbedaan pemikiran, perbedaan sifat, bahkan hinaan. aku belum sepenuhnya berdamai dengan perbedaan itu, tapi aku mulai sadar bahwa terkadang tak masalah berbeda selama perbedaan itu bukanlah hal yang dosa dan merugikan orang lain. jika banyak orang yang menikah, dan ada orang yang belum menikah, mungkin berbeda, tapi bukanlah hal yang salah. berbeda pendapat dalam memandang hal pun hal yang wajar, selama kita sadar tentang pandangan atau jalan pikiran kita sendiri. semuanya bukan tentang ego tapi menyadari dan menerima perbedaan dengan menyakini sambil mencari kebenaran itu sendiri.

untuk diriku sendiri. pilihlah caramu untuk membahagiakan dirimu tanpa bergantung pada pandangan orang lain, selagi caramu tidak salah. biarkan orang lain menemukan kebahagiaannya sendiri. jika orang menjauh darimu mungkin mereka menemukan kebahagiaan lain yang tidak ditemukan darimu. jika orang kesal padamu, ingat dan sadarkan dirimu tentang seperti apa perbuatanmu sebelumnya, dan pikirkan apakah orang itu wajar atau tidak marah padamu. maafkan orang lain dan fokus pada dirimu. sadar tentang dirimu dan responmu itu lebih penting. 

waktu yang terus berjalan. hilang atau kehilangan. siapkah jika kita yang menghilang didunia ini atau kehilangan orang yang kita cintai.  aku tak bermaksud meremehkan perihal dunia ini, tapi setiap detikpun kita tak bisa menjamin kita akan selalu ada atau tidak, hilang atau kehilangan.

untuk diriku lagi. tolong sadarkan dirimu setiap hari. aku tau sekarang cukup berat untuk melangkah lebih dekat lagi, tapi aku yakin kamu adalah dirimu yang dulu. kamu paham siapa dirimu. walaupun mungkin wajahmu penuh kesedihan dan kemurungan tapi kamu adalah orang yang tak ingin melihat orang lain bersedih. kamu bertahan untuk menghadapi badai badai sebelumnya yang tak kalah berat. mungkin kamu tak sekuat dan seceria dulu, tapi perlahan kamu mengenal ujian - ujianmu sebelumnya. aku tau tak mudah untuk menemukan jawaban untuk semua hal yang telah terjadi. mencoba memahami diri sendiri yang dulu dan sekarang.

Minggu, 26 Oktober 2025

Layak

 beberapa kali kejadian membuatku bertanya tentang diriku sendiri. tentang layak kah diriku untuk mendapatkan cinta. beberapa kali aku berusaha menyadarkan diriku tentang kurangnya diriku. rasanya timbul dalam pikiranku ini tentang bagaimana jika aku tak menemukannya? mungkin tidak begitu buruk jika aku menghabiskannya dengan cukup berusaha baik kepada orang lain. 

setiap kali aku berusaha membuka hati lagi, dan tiap kali yang datang membuatku kembali mempertanyakan diriku lagi. dan hal itu yang membuatku tak ingin merasakan hal itu lagi. 

aku berusaha untuk menyemangati diriku sendiri, mencintai diriku sendiri, tapi beberapa orang dengan mudah membuatku ragu terhadap diriku sendiri. haruskah aku membuka hatiku lagi? 

dalam lamunanku, kadang aku ingin waktu berhenti sejenak. aku ingin menghabiskan waktu itu untuk tidur beberapa hari, membawa jiwaku berlalu lalang dalam dunia mimpi. sejujurnya aku tak cukup banyak ambisi. aku tak tau apakah aku kehilangan motivasi, kehilangan diriku sendiri, mati rasa, atau kosong. 

kadang aku hanya ingin pergi dari dunia ini dengan tenang. tanpa meninggalkan benci dari siapapun, tanpa menyakiti siapapun. untuk saat ini, aku sangat bersyukur aku masih memiliki mama. aku masih memiliki semangat dihidupku, tujuan hidupku. selama masih ada mama, maka hidupku akan baik baik saja. mama tolong hidup lebih lama. Ya Allah tolong hidupkan lebih lama mama hamba. 

jika uang bukanlah masalah. aku ingin hidup dalam ketenangan, menjauh, sederhana, dan ada mama didalamnya. 

berkali kali aku membuka hati, tapi mereka dengan mudahnya menyakiti hatiku seenak hatinya, hingga akhirnya aku kembali menyembuhkan luka itu. berkali kali menyembuhkan hingga akhirnya aku tak ada ingin lagi terlalu mencintai dan berharap. bahkan segala sesuatu yang pahitpun aku anggap tak ada rasa, dan tak terjadi apa apa.

Ya Allah, tolong buat hamba untuk selalu sadar dengan segala perbuatan hamba. kejadian itu membuat hamba selalu berkali kali mengingat, apa yang telah hamba lakukan setiap harinya. apakah hari ini sikap hamba normal atau mungkin tidak wajar. sungguh aku bingung, ketika aku memilih diam untuk tidak berkata kata menyinggung, tapi ketika diam pikiranku membawa diriku kedalam berbagai hal. Ya Allah, hamba bingung dengan diri hamba. motivasi itu tidak sebesar dulu, ingatan hamba tidak sebagus dulu.