19 september 2020
Siapa yang pernah menyangka bahwa ditahun 2020 ini akan ada sebuah virus yang mematikan yang menghinggapi seluruh negara yang ada di dunia. akupun sama sekali tidak pernah memikirkannya. tapi kali ini aku bukan ingin menceritakan tentang virus atau keadaan ku karena virus ini, tapi tentang rasa cintaku terhadap seseorang yang belum berakhir sebelum dan saat pandemi ini ada. sudah berkali - kali aku menuliskan tentang keinginanku dan usahaku untuk melupakannya tapi tetap saja hati dan pikiranku selalu tertuju pada dirinya.
Ibuku sering berkata entah melucu atau tidak, bahwa yang aku cintai hanyalah angin. mereka hanya mampu dirasakan, tapi sebenarnya ia hanyalah sesuatu yang sulit untuk digapai dan dilihat. dan beberapa kali pula diingatkan sebaiknya mencari pasangan didalam negeri sendiri saja, lebih nyata dan lebih tidak merepotkan. Bagiku semua yang diucapkannya benar. aku bagai mencintai angin. walaupun mereka nyata tapi aku tidak pernah melihat wujud aslinya, berbicara langsung bertatap muka, apalagi tau tentang karakter dan sifat aslinya. aku sering menyadarkan diriku sendiri tentang hal itu, tapi tetap saja aku mengulang hal - hal yang aku lakukan sebelumnya, tetap mencoba berkomunikasi dengannya, dan akhirnya tersakiti dan meratapi perbuatan yang kulakukan.
aku mencintai seorang pria yang lebih muda dariku 3 tahun. Ia berasal dari Bangladesh yang saat ini sedang berkuliah di Canada. aku mengenalnya satu tahun yang lalu, di bulan september tepatnya. saat awal mengenalnya perasaanku hanya biasa - biasa saja tak ada rasa suka atau cinta. aku mengenalnya setelah aku tersakiti oleh seorang pria dari luar juga sehingga aku memulai percobaan baru mengenal pria lain, dan akhirnya aku bertemu dengannya. Sebenarnya dia tidak begitu tampan, tapi bagiku dia sangat manis. ditambah dengan sikapnya yang tidak begitu memperlihatkan kelebihan dari dirinya, bukan hanya itu, dia sangat pandai berkata - kata romantis, yang kadang membuatku senyum - senyum sendiri membaca pesannya. diawal perkenalan kami sering sekali video call di pagi hari. namun beriringnya waktu, obrolan kami semakin berkurang.
sebenarnya aku sangat paham, bahwa aku dan dengannya sangat sulit untuk bersama. namun semua hal itu sebenarnya bisa terjadi jika kami saling terbuka dan tentunya saling mencintai. Semakin lama aku mengenalnya, aku merasa bukan cinta yang kudapatkan tapi hanya permainan semata. Aku tak pernah menjalin hubungan asmara nyata dikehidupanku, sehingga aku tak paham apakah normal atau tidak bercerita tentang keinginan seksual terhadap pasangan, namun berdasarkan hal yang ku yakini, berbicara tentang hal - hal mesum bukanlah hal yang baik dan semestinya tidak harus dilakukan. walaupun aku tau mungkin semua orang yang berpacaran mengucapkan hal - hal mesum bahkan melakukannya.
aku menyadarkan diriku, bahwa aku hanyalah sebagai selingan waktunya. tidak ada keseriusan darinya tentang mengenal siapa diriku dan tentang yang ada didiriku. Ia tak pernah bertanya tentang tanggal lahirku, kegemaranku, keluargaku, yang keluar dari mulutnya hanya kata - kata romantis yang membuatku muak ditambah lagi percakapannya yang membahas tentang hal kotor. Sebenarnya tak ada alasan lagi bagiku untuk tetap mencintainya. Aku menginginkan pria yang mampu memahami dan menghargai pendapatku. Jika aku berpendapat bahwa berbicara dan melakukan hubungan intim diluar pernikahan adalah hal yang buruk maka sebaiknya ia memiliki pemikiran yang sama pula, bahkan aku ingin ia yang selalu mengingatkanku untuk menjaga diri. Aku tak paham mengapa aku masih mencintainya hingga kini. Apakah karena dia berkuliah di Canada? atau karena dia romantis? atau karena dia sangat manis? atau mungkin ketiga - tiganya?.
Aku kembali berpikir dan menyadarkan diriku lagi. hanya itu yang bisa kulakukan agar aku tetap waras. Apa yang harus aku pertahankan untuk seseorang yang tidak mencintaiku? Apakah aku mau tetap berada di keadaan yang membuatku bersedih? aku tidak ingin hidup dalam penantian seseorang yang tidak mencintaku, dan aku tidak ingin selalu bersedih karena memikirkan cinta yang tak sejalan. Aku mencintainya, itu tak bisa dibohongi tapi mencintai seseorang yang tidak mencintai kita adalah kesalahan. Sebelumnya aku berpikir, dia adalah pria yang tidak pantas bagiku, tapi sebenarnya aku juga adalah wanita yang tidak pantas untuknya. Jika dia berpikir aku pantas untukknya dia akan benar - benar mencintaiku, tapi kenyataannya tidak. Jika sama - sama merasa tidak pantas lalu mengapa harus dipaksakan?
Kini yang aku pahami, mungkin sebelumnya aku terlalu ingin memilikinya dan ingin ia sesuai dengan yang aku pikirkan, tapi sebenarnya dia juga memiliki keinginan tentang wanita yang ia impikan. Ia ingin wanita yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya, jika dia berpikir berbicara mesum adalah hal yang normal, maka dia sebaiknya mendapatkan wanita yang mampu meladeni percakapannya. Dan aku terlalu memaksakan dirinya untuk sesuai dengan pemikiranku padahal ia memiliki keinginan dan pemikirannya sendiri. Aku mencintainya, maka aku harus mengikhlaskannya untuk bahagia dengan wanita yang membuatnya bahagia pula. aku mencintainya maka aku harus menjauh dari dirinya, agar ia bisa lepas dari pemikiranku. Aku mencintainya, maka aku mendoakan agar dia mendapatkan dan mencintai wanita baik yang mampu menjadikannya pria yang lebih baik. Cinta bukan hanya tentang memaksakan orang lain sesuai dengan yang kita inginkan. Cinta bukan tentang memiliki seutuhnya, karena sebenarnya tidak ada yang benar - benar kita miliki di dunia ini. Jika orang yang kita cintai lebih bahagia dengan orang lain, lalu mengapa harus tetap memaksakan diri?. Saatnya berpikir bahwa kemungkinan lain selalu ada. Jika tidak dengannya, maka dengan orang lain yang menganggap kita pantas untuknya. Semua kembali keyakinan kita kepada Allah, bahwa Allah maha mengetahu yang terbaik untuk hambaNya.
Sekian,
Anda Fatimah