aku dan lina duduk disebuah batu besar yang menghadap pantai, dimana kami dapat melihat matahari terbenam. aku melihat orang - orang lalu lalang sambil berfoto selfie, bercanda - canda dengan teman akrabnya, menunggu ombak datang, menggendong anaknya menuju pantai, sepasang kekasih saling bersandar bahu satu sama lain, keluarga yang masih asyik bermain di tepi pantai, bermain pasir. lina menatapku cukup lama kemudian mengalihkan pandangannya ke pantai lagi.
" kamu lagi mikirin apa? tanya lina
" lagi mikirin apa yah.., aku sendiri bingung", ucapku sambil tersenyum
" ngak paapa cerita aja, aku rasa kamu ada sesuatu deh ". ucap lina
" (aku tersenyum kecil) andaikan isi pikiranku bisa bersuara tanpa aku harus mengucapkan lin ", ucapku sambil menatap keluarga yang asyik bermain
" hmm, jadi ikutan bingung, bilang aja lagi males ngomong",
" terlalu banyak yang harus diucapkan, jadi aku bingung mulai dari mana",
" apa perhatian besar kamu?"
" (menarik nafas dalam) penyesalanku.., aku ngerasa semua hal - hal buruk yg terjadi dikeluargaku penyebabnya karena aku ",
" what? please...kamu udah sering berkorban buat keluargamu, dan kamu yang paling pengertian. please jangan sering nyalahin diri sendiri mil".
" tapi aku sadar aku sudah ngelakuin kesalahan lin",
" (lina menatapku cukup lama) semua orang pasti pernah melakukan kesalahan mil, bagus kalau kamu sudah sadar sama kesalahanmu, ngak ada kata terlambat buat memperbaikinya ", ucap lina sambil tersenyum padaku.
" semoga aja yah lin..", ucapku membalas senyumnya.
2010
Aku, kakakku, adik dan ibuku berbincang dan bercanda bersama di ruang tamu. saat itu tidak ada kursi dan rumah kami pun masih beralaskan tikar.
" kalau kamu mau punya istri yang seperti siapa ren? tanya Desi (kakakku)
"hmmm...", adikku bingung
" pasti kaya putri kan?" ucapku meledeknya
" iya kah ren, kaya nida? tanya desi kurang yakin
" ngak, kaya milla ", jawab rendy (adikku)
" wihhh, kaya milla.., kenapa kaya milla?" desy cukup kaget
" soalnya milla paling mengerti aku, suka masak, kita seperti teman", ucap rendy
aku tersipu malu dan seperti tidak percaya adikku memujiku seperti itu
" wess, memang kalian cocok jadi adik kakak ", ucap desy sambil tertawa
bagiku rendy bukan hanya sekedar adik, tapi juga sebagai teman dekat. aku bercerita banyak hal padanya dan diapun sama sepertiku. aku sangat dekat dengannya, mungkin karena umur kami juga yang tidak jauh berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar