Total Tayangan Halaman

Jumat, 19 Maret 2021

Ketenangan Diri

Tahun 2021. Alhamdulillah, Allah masih memberikanku hidup hingga detik ini pada hari jumat, 19 maret 2021. di umur 27 tahun. itu bukanlah umur yang muda. itu adalah fase menuju kedewasaan sesungguhnya. fase juga dimana begitu banyak hal - hal yang terjadi, kesedihan, kemarahan, kebingungan dan lain halnya. tapi bagiku, masih banyak hal - hal yang belum ku mengerti, maksudku disini adalah tentang cara bersikap dan berpikir. aku tetap seperti yang dulu. tidak ada yang berubah. tingkah kadang masih seperti anak kecil dan labil. namun ada satu pelajaran dalam hidupku yang baru ku pahami akhir - akhir tahun ini. yaitu tentang ketenangan. maksud ketenangan disini adalah bersikap tenang walaupun kesal, marah dan kecewa, dan tenang dalam menerima semua hal yang terjadi. 

tenang membuatku paham, bahwa kita tak bisa mengiyakan semua permintaan orang lain, dan tenang menghadapi semua resiko yang kapanpun bisa terjadi. dan dengan ketenangan pula aku lebih paham tentang makna kehidupan. yah, apa yang membuat kita begitu menggebu - gebu tentang dunia ini, apa yang membuat kita menjadikan dunia sebagai alasan untuk bahagia, padahal kita cukup tenang, bahwa didunia ini tak ada yang abadi, dan kematian adalah kepastian. dengan mengingat kematian, aku lebih tenang. aku tak perlu bersedih, kecewa dan marah yang berlebih untuk sesuatu yang tak abadi. jika nanti aku mengalami kemiskinan yang begitu parah, ditinggalkan oleh orang yangku sayangi, dihianati oleh orang yang ku percaya, dihina dan diremehkan oleh manusia, aku hanya bisa tersenyum dan mengingatkan diriku, untuk sadar bahwa inilah ujian. ini tidaklah abadi. sama seperti kebahagian, berbahagialah secukupnya. karena kesedihan dan kebahagiaanpun juga tak abadi. tak perlu merasa memiliki dan tak perlu juga merasa kehilangan. tak perlu merasa miskin dan tak perlu merasa kaya. tak perlu merasa cantik dan buruk rupa. karena yang paling penting adalah menerima dengan ikhlas, dan mengembalikannya kepada Allah. 

kenapa harus sangat membenci seseorang, mengapa takut akan yang terjadi, mengapa khawatir jika tak ada seorangpun yang mendukung, jika semua yang kita lakukan adalah hal yang baik dan benar. jika aku melakukan kebaikan dan orang lain membalasnya dengan keburukan, itu bukanlah masalahku. jika aku melakukan kelalaian dan orang lain menjadi tidak menyukaiku itu juga resiko yang bisa kudapatkan. jika aku tak melakukan apapun namun orang lain bersikap buruk atau berprasangka buruk padaku, itu juga bukan salahku. semuanya akan mendapatkan pertanggung jawaban masing - masing dari setiap perbuatan yang dilakukan. aku tak perlu bersedih dengan perlakuan orang lain, aku tak perlu kecewa dengan remehan orang lain, dan kelalaianku tidak membuatku mengutuk diriku sendiri. karena aku hanya manusia yang luput dari dosa. dan sama halnya, ketika orang lain berbuat kesalahan, aku menganggap mereka juga manusia biasa sepertiku. 

dan yang kusadari pula, kebaikan yang ku lakukan tidak otomatis membuat semua orang menyukaiku, namun ketika aku membuat kesalahan otomatis aku tidak disukai, bahkan walaupun aku tak melakukan apapun, prasangka buruk tetap saja terjadi padaku. semakin aku memikirkan semua itu, semakin membuatku lelah, semakin membuat hidupku tak berarti. padahal hal yang seperti itu tak akan pernah berhenti selama kita hidup didunia ini. 

Aku teringat dalam surat Al Baqarah ayat 214. "Apakah kalian mengira akan masuk surga padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang - orang terdahulu sebelum kalian? 

aku pernah membaca siroh dan kisah - kisah dulu, begitu berat ujian - ujian Nabi dan orang - orang mukmin terdahulu. mereka diuji dengan kemiskinan hingga ber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar